Menyeberang Jalan: Dari Logika Kode Teknik Komputer Menuju Seni Mengajar di Ruang Kelas
Bagi seorang lulusan ilmu teknik, dunia terasa sangat terstruktur dan pasti. Ketika baris kode ditulis dengan benar, program akan berjalan; ketika sirkuit dirangkai tepat, arus listrik akan mengalir.
Bagi seorang lulusan ilmu teknik, dunia terasa sangat terstruktur dan pasti. Ketika baris kode ditulis dengan benar, program akan berjalan; ketika sirkuit dirangkai tepat, arus listrik akan mengalir. Selama menempuh pendidikan D4 Teknik Komputer di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), hidup saya berkutat di antara baris logika pemrograman, perangkat keras, hingga eksplorasi di bidang Kecerdasan Buatan (AI). Saya terbiasa memecahkan masalah dengan pendekatan sistematis dan analitis.
Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern, sebuah pertanyaan mendasar mulai muncul di pikiran saya: Bagaimana semua kemajuan teknologi ini bisa benar-benar berdampak jika tidak ada yang menjembataninya ke generasi penerus di ruang kelas?
Memutus Jurang antara Industri dan Sekolah Vokasi
Banyak orang beranggapan bahwa lulusan teknik murni seharusnya meniti karir sepenuhnya di industri sebagai pengembang perangkat lunak atau insinyur sistem. Namun, saya melihat adanya jurang pemisah antara tingginya kebutuhan industri digital dengan kesiapan para siswa di sekolah menengah kejuruan (SMK).
Saya menyadari bahwa untuk mencetak talenta digital masa depan, kita tidak hanya membutuhkan praktisi di industri, melainkan juga pendidik yang memahami seluk-beluk teknis sekaligus menguasai cara menyampaikan ilmu tersebut secara terstruktur dan mudah dipahami. Keinginan untuk menjembatani jurang itulah yang mendorong saya memberanikan diri "menyeberang" ke dunia keguruan.
Langkah Baru di UPI dan PPG Prajabatan
Keputusan menyeberang ini membawa saya melangkah ke Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk menempuh program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan.
Transisi dari dunia teknik murni ke ranah pedagogik memberikan pengalaman dan perspektif yang sangat baru. Jika di PENS saya belajar cara "memerintah" mesin dan komputer, di UPI saya belajar memahami manusia—mengenali kebiasaan belajar siswa, gaya komunikasi, serta cara membimbing mereka. Saya mulai mendalami strategi pembelajaran, memahami konsep Kurikulum Merdeka, serta merancang perangkat pembelajaran seperti Modul Ajar dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang interaktif.
Pengalaman Realitas di Ruang Kelas
Momen pembuktian itu hadir saat saya menjalani praktik mengajar (microteaching) di SMKN 13 Bandung. Di sana, saya menyadari bahwa mengajar siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) jauh lebih kompleks daripada merancang sirkuit.
Proses "debugging" tidak lagi terjadi pada layar monitor, melainkan pada pemahaman siswa yang sedang kesulitan memahami logika pemrograman. Saya belajar untuk tidak sekadar menyampaikan materi teknis, tetapi juga mendengarkan, memberi ruang, serta menerapkan metode interaktif seperti Think-Pair-Share agar siswa berani berdiskusi dan tidak takut melakukan kesalahan saat belajar.
Menyatu dalam E-Portofolio
Perjalanan menyeberang ini tidak berarti saya meninggalkan latar belakang teknik saya. Justru sebaliknya, kombinasi antara fondasi teknik dari PENS dan ilmu pedagogik dari UPI menjadi kekuatan utama saya sebagai pendidik vokasi. Saya dapat memanfaatkan keahlian teknologi untuk merancang pembelajaran digital yang relevan dengan kebutuhan industri terkini.
Melalui website e-portofolio ini—yang terbangun berkat kerja sama PANDI dan UPI—saya mendokumentasikan setiap langkah perjalanan transisi tersebut. Di sini, saya membagikan Modul Ajar, LKPD, serta catatan refleksi dari ruang kelas. Bagi saya, menyeberang ke dunia keguruan bukanlah jalan mundur, melainkan langkah maju untuk memastikan bahwa ilmu teknik yang saya miliki dapat bertumbuh dan memberikan dampak nyata bagi pendidikan Indonesia.
Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.